Stunting Turun Signifikan, Sakra Selatan Bawa Nama NTB ke Penilaian Desa Berkinerja Baik 2026
Klik86.com - LOMBOK TIMUR — Konsistensi Desa Sakra Selatan, Kecamatan Sakra, dalam menangani stunting mendapat perhatian pemerintah pusat. Desa tersebut terpilih menjadi wakil Kabupaten Lombok Timur dan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam Penilaian Desa Berkinerja Baik 2026 untuk bidang konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting.
Penilaian kini memasuki tahap wawancara yang digelar secara daring pada Selasa (15/9/2026). Tahapan itu berlangsung setelah seluruh dokumen yang menjadi persyaratan penilaian lebih dahulu diperiksa oleh tim.
Dalam proses tersebut, tim penilai berasal dari unsur pemerintah pusat, di antaranya Sekretariat Presiden dan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT).
Kepala Desa Sakra Selatan Lalu Burhan mengikuti sesi wawancara bersama jajaran pemerintah desa. Kehadiran pemerintah daerah juga diperkuat Wakil Bupati Lombok Timur H. Moh. Edwin Hadiwijaya selaku Ketua Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S).
Wabup hadir bersama sejumlah perangkat daerah dan unsur pendamping, mulai dari Kepala Bappeda, Kepala DP3AKB, pendamping keluarga, PLKB hingga PKK. Keterlibatan banyak pihak tersebut menjadi bagian dari strategi penanganan stunting yang dilakukan secara terpadu.
Edwin menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Desa Sakra Selatan serta warga yang dinilai berhasil membangun gerakan bersama dalam menekan angka stunting. Ia menilai keberhasilan di tingkat desa harus ditopang dengan sistem pendataan yang kuat.
Karena itu, Sakra Selatan yang memiliki sekitar 8.435 penduduk didorong untuk dikembangkan sebagai Desa Cinta Statistik (Desa Cantik). Menurutnya, ketersediaan data yang akurat akan membantu pemerintah menentukan kebijakan dan mengarahkan program pembangunan sesuai kondisi masyarakat.
Apresiasi juga datang dari Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan (PSBLDP) Kemendes PDT Andrey Iksan Lubis. Ia menilai kinerja Sakra Selatan menunjukkan bahwa inovasi desa akan lebih efektif ketika dibangun dengan partisipasi masyarakat.
Andrey berharap pengalaman Sakra Selatan tidak berhenti sebagai capaian satu desa, tetapi dapat menjadi contoh bagi desa-desa lainnya di Lombok Timur dalam memperkuat program pembangunan berbasis kebutuhan warga.
Sejumlah inovasi menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Sakra Selatan mengembangkan Gerakan Tolak Merarik Kodek (Getak Mako) untuk mendorong pencegahan perkawinan usia anak. Selain itu, terdapat program Percepatan Naikkan Gizi Keluargaku (Pangku) yang diarahkan untuk memperbaiki pemenuhan gizi keluarga.
Intervensi tersebut diperkuat melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Anak Stunting (Genting) dari pemerintah kabupaten. Pendampingan dilakukan dengan melibatkan organisasi perangkat daerah serta badan usaha milik daerah.
Pemerintah desa juga membangun kemitraan dengan SPPG Lombok Timur Sakra 3 sebagai bagian dari dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.
Dari sisi pembiayaan, Pemdes Sakra Selatan menunjukkan komitmen melalui pengalokasian sekitar 40 persen APBDes atau lebih dari Rp460 juta untuk mendukung kegiatan penanganan stunting. Anggaran tersebut antara lain menopang insentif bagi Kader Pembangunan Manusia (KPM) dan kader Posyandu.
Kinerja program tersebut tercermin dari perubahan jumlah kasus stunting. Pada 2024, Sakra Selatan mencatat 63 kasus dan sempat masuk kategori zona hitam.
Setahun kemudian, jumlah tersebut menurun menjadi 42 kasus. Tren positif kembali terlihat pada 2026, dengan jumlah kasus hingga triwulan III tercatat 29 orang.
Penurunan tersebut menjadi modal penting bagi Sakra Selatan dalam menghadapi penilaian Desa Berkinerja Baik 2026. Selain menunjukkan hasil intervensi, capaian itu memperlihatkan bagaimana pemerintah desa, pemerintah daerah, kader, keluarga, dan masyarakat bergerak dalam satu skema penanganan stunting.
Keikutsertaan Sakra Selatan dalam penilaian nasional sekaligus menjadi peluang untuk memperkenalkan inovasi desa dari Lombok Timur ke tingkat yang lebih luas. Tantangan berikutnya adalah memastikan capaian penurunan stunting dapat dipertahankan dan terus ditekan pada tahun-tahun mendatang.(red)
