Modernisasi Pertanian di Lombok Timur Diperkuat, Penyuluh Dituntut Tingkatkan Hasil Panen
Klik86.com - LOMBOK TIMUR – Transformasi sektor pertanian membutuhkan penyuluh yang mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus memahami kebutuhan petani di lapangan. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur pun mendorong peningkatan kompetensi penyuluh sebagai bagian dari strategi memperkuat produksi pangan dan mendukung target swasembada berkelanjutan.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, saat membuka Bimbingan Teknis Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) dan Mitigasi Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), Kamis (29/10/2026).
Edwin menilai, perubahan tata kelola penyuluhan pertanian harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia. Penyuluh diharapkan mampu menjadi penggerak inovasi, memberikan edukasi yang mudah dipahami, serta membantu petani menerapkan metode budidaya yang lebih produktif.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, peningkatan kapasitas perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pelatihan, pendidikan teknis, dan pemanfaatan sumber pembelajaran digital. Dengan bekal pengetahuan yang memadai, penyuluh diharapkan dapat memberikan pendampingan yang relevan dengan tantangan pertanian saat ini.
Menurut Edwin, agenda penguatan pertanian juga perlu ditopang oleh perencanaan pembangunan yang berbasis data. Salah satu perhatian pemerintah daerah adalah pendataan infrastruktur irigasi agar informasi mengenai kondisi dan kewenangan pengelolaannya dapat terhimpun dengan baik.
Basis data tersebut dinilai penting untuk menyelaraskan pembangunan antara pemerintah desa, daerah, hingga pusat. Integrasi perencanaan diharapkan dapat menghindari tumpang tindih program dan memastikan pembangunan infrastruktur memberikan manfaat optimal bagi sektor pertanian.
Di sisi lain, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) NTB terus mendorong pelaksanaan PM-AAS sebagai upaya meningkatkan efisiensi dan hasil produksi padi. Ketua Tim Kerja Pendampingan Program Wilayah II BRMP NTB, Darwis, menyampaikan bahwa dukungan pemerintah daerah menjadi salah satu unsur penting dalam memperkuat pelaksanaan program tersebut.
Darwis menjelaskan, PM-AAS di NTB menargetkan cakupan lahan seluas 28.523 hektare. Melalui program ini, produktivitas padi diharapkan meningkat dari sekitar 5 ton menjadi 6–7 ton per hektare.
Pencapaian sasaran itu memerlukan keterlibatan aktif penyuluh dalam mendampingi petani, mulai dari penerapan teknik budidaya hingga pengendalian organisme pengganggu tumbuhan. Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu petani mengurangi risiko kehilangan hasil sekaligus meningkatkan efisiensi proses produksi.
PM-AAS merupakan sistem budidaya padi intensif berbasis teknologi yang dikembangkan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Sistem ini diarahkan untuk mengoptimalkan hasil panen, menekan biaya produksi, dan meningkatkan ketepatan dalam pengelolaan kegiatan budidaya.
Pelaksanaannya di NTB melibatkan dukungan 1.092 penyuluh pertanian dan mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19 Tahun 2026 tentang perubahan tata kerja Kementerian Pertanian.
Salah satu bentuk penerapan teknologi dalam program tersebut adalah penggunaan alat tanam benih langsung atau Atabela serta Drum Seeder. Pemanfaatan peralatan modern ini ditujukan untuk mempercepat penanaman dan meningkatkan efisiensi kerja di lahan pertanian.
Dengan peningkatan kompetensi penyuluh, penggunaan teknologi yang tepat, serta perencanaan infrastruktur yang terintegrasi, pemerintah berharap produktivitas pertanian di NTB terus meningkat. Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung keberlanjutan swasembada pangan nasional.(red)

