BREAKING NEWS

Bupati Lombok Timur Tekankan Perlindungan Santri, Buku Antikekerasan Diminta Tak Sekadar Dibaca


Klik86.com - 
Lombok Timur – Upaya menciptakan lingkungan pesantren yang aman mendapat perhatian dari Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin. Ia meminta seluruh unsur pesantren menjadikan pencegahan kekerasan sebagai bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter santri.

Pernyataan tersebut disampaikan Haerul saat menghadiri sekaligus membuka kegiatan bedah buku Pandu Thohir Yasin Menolak Kekerasan di Pesantren di Gedung Rektorat Ma’had Aly Thohir Yasin, Senin (5/10/2026).

Menurutnya, pesantren mempunyai tanggung jawab besar dalam membentuk generasi yang tidak hanya menguasai ilmu agama dan pengetahuan umum, tetapi juga memiliki akhlak, adab, kedisiplinan, serta moral yang baik.

Karena itu, suasana belajar di pesantren harus terbebas dari tindakan yang berpotensi merusak rasa aman para santri. Ia menilai persoalan kekerasan perlu dibicarakan secara terbuka agar seluruh pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai bentuk, dampak, dan cara mencegahnya.

Haerul mengapresiasi langkah Ma’had Aly Thohir Yasin yang menerbitkan buku dengan tema tersebut. Menurutnya, penerbitan buku antikekerasan menjadi bentuk keseriusan lembaga pendidikan dalam memberikan perlindungan kepada para santri.

Ia juga berharap gagasan yang dituangkan dalam buku tersebut dapat menjadi contoh bagi pondok pesantren lain di Lombok Timur. Dengan demikian, kesadaran mengenai pentingnya perlindungan anak dan pencegahan kekerasan bisa berkembang lebih luas.

Dalam sambutannya, Haerul mengingatkan bahwa nilai-nilai Islam mengajarkan manusia untuk menghormati dan memperlakukan orang lain dengan baik. Ia mengaitkannya dengan pesan dalam Surah Al-Baqarah tentang larangan melampaui batas dalam bertindak.

Menurutnya, prinsip tersebut harus tercermin dalam kehidupan pesantren. Perundungan, penghinaan, pelecehan, kekerasan secara fisik maupun verbal, serta kebiasaan saling merendahkan tidak boleh dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan pendidikan.

Bupati menyebut kepercayaan orang tua terhadap pesantren membawa tanggung jawab yang besar. Ketika anak dititipkan untuk menuntut ilmu, orang tua tentu menginginkan mereka pulang dengan pengetahuan, akhlak, dan kepribadian yang lebih baik.

“Anak-anak dititipkan di pesantren agar mendapatkan pendidikan yang utuh, termasuk memahami adab dan cara menghargai sesama,” ujar Haerul.

Ia turut memberikan apresiasi kepada Joko Jumadi sebagai penulis buku tersebut. Haerul berharap buku itu mampu mendorong perubahan nyata, bukan sekadar menjadi dokumen yang tersimpan di perpustakaan.

Ia meminta isi buku dipelajari oleh semua kalangan yang terlibat dalam pendidikan pesantren, mulai dari pengasuh, ustaz dan ustazah, guru, pengelola, santri hingga wali santri.

“Buku ini jangan berhenti pada judul atau sekadar disimpan. Isinya harus dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Haerul juga menyambut positif kehadiran para narasumber dalam kegiatan tersebut. Ia menilai forum bedah buku dapat menjadi ruang untuk memperluas pemahaman dan memperkuat komitmen bersama dalam membangun pesantren yang ramah, aman, dan mendidik.

Ia mengungkapkan kehadirannya dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur terhadap agenda yang dinilai penting bagi dunia pendidikan. Haerul bahkan mengaku langsung tertarik hadir setelah melihat informasi kegiatan yang dibagikan melalui selebaran.

Bupati berharap kegiatan serupa tidak berhenti di Ma’had Aly Thohir Yasin, tetapi dapat digelar di berbagai pesantren lainnya sehingga gerakan pencegahan kekerasan menjadi perhatian bersama.

Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Lombok Timur, Ketua Yayasan, para tuan guru, jajaran pengurus Thohir Yasin, ustaz dan ustazah, perwakilan Kementerian Agama, serta para santri.(red)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image