GASAK NTB Minta Partai Tak Lupakan Perjuangan Caleg Gagal, Soroti Dugaan Mandeknya Kompensasi Pascapemilu
Klik86.com - Lombok Timur – Gerakan Advokasi Strategis Analisis Kebijakan Publik (GASAK) Nusa Tenggara Barat (NTB) melontarkan kritik terhadap pola pembinaan kader yang dilakukan sejumlah partai politik setelah berakhirnya Pemilu Legislatif 2024. Organisasi tersebut menilai perhatian partai cenderung hanya terfokus kepada calon legislatif (caleg) yang berhasil memperoleh kursi, sementara caleg yang tidak terpilih justru ditinggalkan meski telah berkontribusi dalam mendongkrak perolehan suara partai.
Ketua Bidang Politik dan Kebijakan Publik GASAK NTB, Anwar, mengatakan keberhasilan partai meraih kursi di lembaga legislatif tidak dapat dilepaskan dari kerja kolektif seluruh caleg yang bertarung di setiap daerah pemilihan. Menurutnya, suara yang diperoleh para caleg yang gagal terpilih tetap menjadi bagian penting dalam menentukan kekuatan elektoral partai.
"Dalam setiap pemilu, kemenangan partai merupakan hasil perjuangan bersama. Karena itu, sudah semestinya seluruh caleg yang telah bekerja keras mendapatkan penghargaan, bukan hanya mereka yang akhirnya duduk di parlemen," ujar Anwar dalam keterangannya di Selong, Kamis (2/7/2026).
Ia menilai kondisi yang terjadi saat ini berpotensi menimbulkan kekecewaan di kalangan kader. Bahkan, menurutnya, hubungan antara partai dengan para pendukung di tingkat akar rumput dapat melemah apabila komunikasi dengan caleg yang tidak terpilih tidak lagi dijaga.
GASAK NTB mengungkapkan telah melakukan penelusuran terhadap sejumlah mantan caleg dari berbagai partai politik di Kabupaten Lombok Timur. Dari hasil penelusuran tersebut, organisasi itu mengklaim menemukan keluhan yang hampir seragam, yakni belum adanya realisasi kompensasi sebagaimana yang diyakini telah menjadi kebijakan atau arahan internal di masing-masing partai.
Selain persoalan kompensasi, GASAK NTB juga menyoroti minimnya ruang bagi para caleg yang tidak terpilih untuk tetap terlibat dalam aktivitas politik partai. Padahal, menurut Anwar, mereka masih memiliki jaringan konstituen yang dapat menjadi aset penting dalam menjaga hubungan partai dengan masyarakat.
"Jangan sampai kader hanya dibutuhkan ketika masa kampanye dan pengumpulan suara. Setelah pemilu selesai, mereka justru kehilangan perhatian. Pola seperti ini tidak baik bagi masa depan organisasi politik," katanya.
Lebih lanjut, Anwar mengingatkan bahwa bantuan keuangan yang diterima partai politik melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) dihitung berdasarkan total perolehan suara sah partai dalam pemilu. Dengan demikian, setiap suara yang disumbangkan oleh seluruh caleg, baik yang terpilih maupun tidak, memiliki nilai yang sama dalam meningkatkan perolehan suara partai.
Atas dasar itu, GASAK NTB mendesak pimpinan partai politik di tingkat pusat maupun daerah untuk mengevaluasi mekanisme pembinaan kader pascapemilu. Organisasi tersebut berharap partai menyusun sistem yang lebih terbuka dan berkeadilan dalam memberikan penghargaan terhadap kontribusi seluruh caleg.
Menurut GASAK NTB, langkah tersebut tidak hanya penting untuk menjaga loyalitas kader, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas demokrasi dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap partai politik.
"Mereka telah mengorbankan tenaga, waktu, dan sumber daya selama proses pemilu. Kontribusi itu patut dihargai agar semangat kaderisasi dan demokrasi tetap terpelihara," tutup Anwar.(red)
